![]() |
| Dokumentasi Humas IPB |
BOGOR – IPB University dan Universiti Sultan Azlan Shah (USAS) Malaysia resmi menandatangani Memorandum of Agreement (MoA) terkait implementasi program One Village One CEO (OVOC) di Negara Bagian Perak, Malaysia. Penandatanganan berlangsung di Gedung Andi Hakim Nasoetion, Kampus IPB Dramaga, Bogor, Selasa (23/6/2026).
Kesepakatan tersebut menjadi tindak lanjut dari penjajakan kerja sama yang telah dimulai sejak Februari 2024, ketika delegasi USAS pertama kali mengunjungi IPB University untuk membahas peluang kolaborasi di bidang ketahanan pangan, pemberdayaan masyarakat, dan pengembangan pedesaan.
Delegasi USAS yang hadir dalam penandatanganan tersebut antara lain Wakil Rektor USAS Wan Sabri bin Wan Yusof, Wakil Rektor Bidang Akademik dan Riset Shamsul Jamili bin Yeob, Direktur Food Security Academy Azizi bin Ahmad, serta Koordinator Proyek OVOC Malaysia Muhammad Aiman bin Adam.
Rektor IPB University, Alim Setiawan Slamet, yang juga merupakan salah satu pendiri OVOC, menjelaskan bahwa program tersebut lahir dari upaya mengoptimalkan potensi desa sekaligus mendorong mahasiswa untuk terlibat langsung dalam pembangunan pedesaan.
“OVOC diinisiasi untuk mengoptimalkan potensi desa dan mendorong minat mahasiswa IPB agar terjun langsung ke desa-desa sebagai CEO yang mampu menggerakkan pembangunan ekonomi berbasis potensi lokal,” ujarnya.
Program OVOC mulai dijalankan pada 2018 melalui pembinaan petani muda dan santripreneur berbasis pesantren di Bogor. Dalam implementasinya, mahasiswa berperan sebagai penggerak yang menjembatani inovasi kampus dengan kebutuhan masyarakat desa, mulai dari pengembangan komoditas unggulan hingga penguatan kelembagaan ekonomi desa.
Model OVOC dikembangkan melalui tiga tahapan, yakni One Village One Product untuk penguatan komoditas unggulan desa, One Village One Innovation yang berfokus pada peningkatan kualitas dan nilai tambah melalui teknologi, serta One Village One Exporter yang mendorong produk desa menembus pasar internasional.
Hingga 2026, program OVOC telah menjangkau lebih dari 6.000 desa di 29 provinsi atau sekitar 7 persen dari total desa di Indonesia. Program ini tercatat telah menciptakan lapangan kerja bagi sekitar 9.500 orang, melibatkan lebih dari 68.700 warga desa, serta mengimplementasikan 44 inovasi digital.
Sejumlah produk desa binaan OVOC juga telah berhasil memasuki pasar ekspor, di antaranya pupuk organik berbahan dasar kotoran kambing bermerek Goathai yang dipasarkan ke 11 negara, kopi Bajawa dari Flores, serta komoditas pinang dari Kalimantan Barat dan Jambi yang diekspor ke Bangladesh.
Di Malaysia, implementasi OVOC akan dijalankan melalui kemitraan dengan Food Security Academy USAS. Program ini didukung pembangunan University Agricultural Industry Laboratory (UVAIL), kawasan seluas 250 hektare yang dirancang sebagai pusat pendidikan, penelitian, pelatihan, dan agroeduwisata terpadu.
Selain OVOC, kerja sama kedua institusi juga mencakup pengembangan program Sekolah Peternakan Rakyat (SPR) yang telah dikembangkan IPB University.
Alim menilai kerja sama tersebut menjadi bukti bahwa inovasi yang lahir dari desa-desa di Indonesia memiliki relevansi dan potensi untuk diterapkan di tingkat internasional.
“Penandatanganan hari ini menunjukkan bahwa inovasi lokal juga bisa bermanfaat di kancah global,” katanya.
IPB University saat ini tercatat menjalin kemitraan dengan 457 institusi di 61 negara dan menetapkan tahun 2026 sebagai momentum penguatan global engagement guna memperluas kolaborasi internasional di berbagai bidang.
