JAWA BARAT – Penggunaan teknologi dan keterlibatan dalam komunitas menjadi dua unsur yang mewarnai kebiasaan olahraga Generasi Z. Perangkat digital membantu peserta mengatur latihan, sementara kegiatan bersama menyediakan pengalaman sosial yang semakin diminati generasi muda.
Laporan Year in Sport 2025 dari Strava mencatat 46 persen responden menggunakan atau terbuka menggunakan kecerdasan buatan sebagai pelatih cerdas. Gen Z menjadi kelompok yang paling aktif memanfaatkan teknologi tersebut.
Temuan itu merupakan bagian dari laporan yang menganalisis miliaran aktivitas serta survei terhadap lebih dari 30.000 responden. Teknologi digunakan untuk membantu menyusun latihan, membaca perkembangan performa, dan menentukan aktivitas berikutnya.
Keterlibatan digital tersebut berjalan bersama pertumbuhan komunitas olahraga. Strava mencatat jumlah klub baru di platformnya hampir meningkat empat kali lipat sepanjang 2025. Klub lari tumbuh 3,5 kali lipat.
Pertumbuhan itu menggambarkan ketertarikan pengguna terhadap kegiatan bersama. Generasi muda tetap membutuhkan kesempatan bertemu peserta lain di lintasan lari, lapangan olahraga, pusat kebugaran, maupun arena pertandingan.
Perlombaan memiliki daya tarik tersendiri. Gen Z tercatat 75 persen lebih mungkin dibandingkan Gen X menyebut perlombaan atau event sebagai motivasi utama berolahraga.
Kegiatan kompetisi menyediakan sasaran latihan sekaligus pengalaman langsung. Peserta dapat menilai pencapaian kemampuan dan membangun hubungan sosial melalui keterlibatan dalam event.
Pilihan olahraga generasi muda juga semakin beragam. Selain lari, latihan beban menonjol dalam laporan Strava. Gen Z dua kali lebih mungkin dibandingkan Gen X menjadikan latihan beban sebagai olahraga utama.
Di Indonesia, riset Populix terhadap 1.030 responden menunjukkan bulu tangkis serta lari atau jogging termasuk kegiatan yang banyak diminati. Tenis, pilates, dan padel juga mendapatkan perhatian, terutama di kawasan perkotaan.
Perubahan kebiasaan tersebut relevan bagi pengembangan olahraga di Jawa Barat. Pendekatan pembinaan perlu memahami bagaimana generasi muda memperoleh informasi, mengatur aktivitas, serta memilih lingkungan latihan.
Porprov XV Jawa Barat 2026 dapat menjadi kesempatan untuk memperkenalkan olahraga prestasi melalui pertandingan langsung. Kehadiran atlet, pelatih, pembina, dan masyarakat memungkinkan kompetisi menjadi ruang pertemuan berbagai pihak dalam olahraga daerah.
Agar ketertarikan itu berlanjut, masyarakat membutuhkan akses fasilitas dan kegiatan latihan yang teratur. Teknologi dapat membantu mendukung aktivitas, sedangkan klub serta pelatih menyediakan pendampingan. Keterhubungan keduanya membuka kesempatan memperluas partisipasi dan mengembangkan kemampuan generasi muda secara berkelanjutan.