BOGOR – IPB University bersama Pemerintah Jerman dan sejumlah kementerian memperkuat kolaborasi dalam mempercepat transisi energi berkelanjutan dan berkeadilan. Kerja sama tersebut juga diarahkan untuk mendukung ketahanan pangan, penciptaan lapangan kerja, dan pertumbuhan ekonomi.
Komitmen itu mengemuka dalam kunjungan Menteri Federal Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan Jerman Reem Alabali Radovan ke IPB University, Selasa (18/8/2026). Kunjungan tersebut dirangkai dengan kuliah umum bertema Global Energy Transition serta peresmian fasilitas solar cold storage.
Rektor IPB University Alim Setiawan Slamet mengatakan, transisi energi membutuhkan dukungan riset, inovasi, pendidikan, dan kolaborasi internasional. Melalui kerangka Agromaritim 5.0, IPB University berupaya menghubungkan hasil riset dengan pendidikan dan pemberdayaan masyarakat.
Fasilitas solar cold storage akan difungsikan sebagai laboratorium hidup bagi peneliti, dosen, dan mahasiswa. Sarana tersebut dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan riset energi bersih sekaligus teknologi penanganan pascapanen yang sesuai dengan kondisi wilayah tropis.
Reem menilai generasi muda memiliki posisi penting dalam menghadapi krisis iklim dan mendorong perubahan sistem energi. Menurut dia, negara-negara di kawasan Global South menanggung dampak perubahan iklim lebih berat meskipun kontribusinya terhadap penyebab krisis tersebut relatif lebih kecil.
Pemanfaatan energi matahari untuk mendinginkan dan membekukan produk pertanian dinilai memberikan tiga manfaat sekaligus, yakni mendukung transisi energi Indonesia, memperkuat rantai pasok pangan nasional, serta membuka lapangan kerja lokal.
Wakil Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Wakil Kepala Bappenas Febrian Alphyanto Ruddyard menegaskan, proses transisi harus tetap menjamin ketersediaan energi dengan harga terjangkau, menjaga daya saing industri, dan menopang pertumbuhan ekonomi. Indonesia menargetkan emisi nol bersih pada 2060 atau lebih cepat.
Sementara itu, Direktur Energi Terbarukan Kementerian ESDM Tony Susandy menyebut fasilitas tersebut sebagai contoh integrasi energi terbarukan, ketahanan pangan, inovasi teknologi, dan kerja sama internasional. Model serupa diharapkan dapat diterapkan di wilayah yang masih terbatas dalam akses listrik andal dan infrastruktur rantai dingin.