BOGOR – IPB University bersama ENVELOPS Co Ltd dengan dukungan Korea Energy Agency (KEA) mengembangkan integrasi teknologi agrivoltaics (APV) dan e-mobility sebagai bagian dari upaya mendorong pemanfaatan energi terbarukan serta transportasi rendah emisi. Inisiatif ini menghubungkan produksi listrik tenaga surya di lahan pertanian dengan kebutuhan pengisian daya kendaraan listrik.
Program tersebut merupakan bagian dari proyek kerja sama Korea-Developing Country Climate Change Cooperation melalui skema Official Development Assistance (ODA) 2026. Kolaborasi ini diarahkan untuk mempertemukan sektor pertanian, energi, dan transportasi dalam satu sistem yang saling mendukung.
Pengembangan proyek tersebut dibahas dalam Agrivoltaic & E-Mobility Awareness Workshop yang berlangsung di Kampus IPB Dramaga, Bogor, pada 7 Oktober 2026.
Wakil Rektor IPB University Bidang Resiliensi Sumberdaya dan Infrastruktur, Dr. Heti Mulyati, menegaskan bahwa transisi menuju mobilitas listrik tidak cukup hanya mengandalkan ketersediaan kendaraan. Dukungan energi, infrastruktur pengisian daya, dan kebijakan yang terintegrasi juga diperlukan untuk membangun ekosistem transportasi berkelanjutan.
“Ini juga membutuhkan infrastruktur pengisi daya yang cocok dan kebijakan pendukung. Sebenarnya kita sedang menyiapkan kebijakan yang terhubung dengan kampus hijau, transportasi hijau, dan energi hijau,” ujarnya.
Menurut Heti, penerapan APV dan e-mobility membutuhkan pendekatan multidisiplin yang mempertimbangkan aspek pertanian, teknologi, ekonomi, hingga sosial. Karena itu, proyek ini tidak hanya berorientasi pada pembangunan fasilitas energi, tetapi juga berpotensi menjadi sarana pendidikan interdisipliner, penelitian, dan kolaborasi antara perguruan tinggi, industri, serta masyarakat lokal.
Ia berharap fasilitas yang dikembangkan di lingkungan kampus dapat dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan pembelajaran dan penelitian, khususnya mengenai integrasi pembangkitan energi surya dengan aktivitas pertanian.
Direktur Jenderal Divisi Kerja Sama Internasional Korea Energy Agency, Dae Hwan Kim, menyebut proyek tersebut sebagai salah satu bentuk kerja sama bilateral untuk menghadapi perubahan iklim dan mendukung transisi energi. Sistem yang dikembangkan dirancang menghasilkan listrik melalui panel surya di atas lahan pertanian, kemudian memanfaatkan energi tersebut untuk memasok stasiun pengisian baterai kendaraan listrik.
Salah satu target utama proyek ini adalah penyelesaian fasilitas Python Agrivoltaic Simulation Environment versi 1.0 berkapasitas 50 kilowatt-peak (kWp), disertai stasiun pengisian baterai sepeda listrik. Fasilitas tersebut diharapkan menjadi sarana pengembangan dan pengujian integrasi teknologi energi terbarukan dengan kebutuhan mobilitas rendah emisi.
Direktur ENVELOPS Co Ltd, Seungyeon Han, turut memaparkan pengalaman Korea Selatan dalam membangun ekosistem kendaraan listrik. Pada 2025, kendaraan listrik disebut telah mencakup sekitar 13 persen pasar kendaraan di negara tersebut, sedangkan rasio kendaraan listrik terhadap fasilitas pengisian daya mencapai 2:1.
Selain itu, lebih dari 370 perusahaan swasta tercatat berpartisipasi dalam program Korea-Eco-Friendly Vehicles 100 (K-EV100) pada 2024.
Menurut Han, perkembangan tersebut menunjukkan pentingnya dukungan kebijakan, ketersediaan infrastruktur, insentif, dan kolaborasi pemerintah dengan sektor swasta dalam memperluas penggunaan kendaraan listrik.
Pelaksanaan proyek di IPB University juga menempatkan mahasiswa, peneliti, petani, dan masyarakat sebagai bagian penting dari proses pengembangan. Keterlibatan berbagai pihak diharapkan membantu memastikan bahwa integrasi energi surya, pertanian, dan mobilitas listrik tidak berhenti pada pembangunan fasilitas, tetapi turut menghasilkan manfaat bagi pendidikan, penelitian, dan penerapan teknologi berkelanjutan.