JAKARTA – IPB University menggelar The 8th International Conference of Jabodetabek Study Forum (JSF) 2026 yang berlangsung secara hybrid di BRIN Thamrin Convention Hall, Jakarta, pada 23–24 Juli 2026. Konferensi bertema Towards Resilient and Sustainable Mega-Urbanization in the Global South ini mempertemukan akademisi, peneliti, pemerintah, dan praktisi dari berbagai negara untuk membahas tantangan pembangunan kawasan metropolitan yang berkelanjutan.
Sebanyak 88 peserta dari 12 negara mengikuti forum yang diselenggarakan melalui kolaborasi IPB University, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Graduate School of Global Environmental Studies (GSGES) Kyoto University, serta Pusat Penelitian Infrastruktur dan Pengembangan Wilayah (PPIW) Institut Teknologi Bandung.
Kepala BRIN, Prof Arif Satria, mengatakan kawasan Jabodetabek kini telah berkembang menjadi salah satu megaurban terbesar di dunia sehingga memerlukan tata kelola yang semakin adaptif, inklusif, dan berbasis kolaborasi. Menurutnya, persoalan perkotaan seperti sektor informal, lingkungan, hingga ketimpangan sosial harus ditangani secara komprehensif.
“Sektor informal bukan ancaman. Justru harus menjadi bagian yang diintegrasikan dalam sistem ekonomi formal. Prinsip inklusif inilah yang akan sangat penting untuk menjadikan kawasan megacity lebih berkelanjutan,” ujarnya.
Sementara itu, Rektor IPB University, Dr Alim Setiawan Slamet, menegaskan bahwa laju urbanisasi di kawasan Global South menghadirkan tantangan multidimensi yang tidak dapat diselesaikan oleh satu disiplin ilmu maupun satu institusi. Menurutnya, diperlukan sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah, industri, dan masyarakat dengan mengedepankan kebijakan berbasis bukti serta inovasi teknologi.
Ia juga menekankan bahwa pembangunan perkotaan berkelanjutan harus didukung ketahanan ekologi melalui penguatan sistem pangan, perlindungan sumber daya air, konservasi keanekaragaman hayati, serta pembangunan wilayah yang inklusif.
Wakil Rektor IPB University Bidang Riset, Inovasi, dan Pengembangan Agromaritim, Prof Ernan Rustiadi, menjelaskan JSF telah berkembang menjadi forum internasional yang secara konsisten mengkaji dinamika kawasan metropolitan. Menurutnya, fenomena megaurbanisasi tidak hanya berdampak pada wilayah perkotaan, tetapi juga kawasan perdesaan dan periurban sehingga membutuhkan pendekatan lintas disiplin.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Pusat Pengkajian Perencanaan dan Pengembangan Wilayah (P4W) IPB University, Prof Baba Barus, memaparkan pengembangan Desa Binaan Cibulao sebagai contoh praktik baik yang menunjukkan kontribusi kawasan perdesaan dalam mendukung keberlanjutan wilayah metropolitan.
Melalui penyelenggaraan JSF 2026, IPB University berharap jejaring riset internasional mengenai megaurbanisasi di kawasan Global South semakin kuat sehingga mampu menghasilkan rekomendasi kebijakan yang mendukung pembangunan perkotaan yang tangguh dan berkelanjutan.