BOGOR – Viralnya istilah “anak AC” yang mengaitkan generasi Alfa dengan ketidakmampuan bertahan mengikuti upacara di tengah cuaca panas menjadi perhatian publik. Fenomena tersebut sekaligus membuka pembahasan mengenai dampak kemudahan teknologi dan fasilitas terhadap pola pengasuhan serta perkembangan karakter anak.
Pakar pengasuhan dan perkembangan anak IPB University, Prof Dwi Hastuti, menilai anak tetap perlu dilatih menghadapi ketidaknyamanan agar tumbuh menjadi pribadi yang tangguh, mandiri, dan adaptif.
Generasi Alfa merupakan kelompok anak yang lahir pada 2010–2025. Mereka tumbuh di tengah perkembangan teknologi digital dan berbagai fasilitas yang menawarkan kenyamanan, termasuk penggunaan pendingin ruangan.
Menurut Prof Dwi, kemudahan yang diperoleh sejak kecil berpotensi membuat kegigihan, ketahanan mental, dan daya juang mereka tidak terasah secara optimal. Kondisi tersebut turut dipengaruhi lingkungan keluarga, sekolah, gaya hidup, serta media sosial.
Anak juga semakin terbiasa dengan pola pikir serba instan. Ketika merasa kepanasan, misalnya, mereka cenderung langsung menyalakan AC tanpa mencoba alternatif lain, seperti mencari tempat yang lebih sejuk atau mengenakan pakaian berbahan nyaman.
Kebiasaan minim aktivitas fisik turut menjadi tantangan. Jika pada masa lalu banyak anak berjalan kaki menuju sekolah, kini mereka lebih sering diantar menggunakan kendaraan karena pertimbangan kenyamanan, keamanan, dan efisiensi.
Prof Dwi menekankan pentingnya peran orang tua dalam memberikan pengalaman yang melatih kemandirian dan kemampuan memecahkan masalah.
“Ajak anak untuk mengalami juga bagaimana jika ia harus jalan kaki, bagaimana jika tiba-tiba tidak punya uang, tidak punya aneka fasilitas yang membantu mereka,” ujarnya, sebagaimana dikutip dari portal resmi IPB University yang diakses pada Kamis (6/8/2026).
Anak juga perlu dikenalkan dengan beragam kondisi sosial untuk menumbuhkan empati, kemampuan berdiskusi, dan manajemen risiko. Bekal tersebut diperlukan agar mereka tidak mudah menyerah ketika menghadapi perubahan maupun keterbatasan.
Prof Dwi menegaskan, kemampuan beradaptasi, menyelesaikan masalah, dan berpikir kreatif merupakan sejumlah kunci keberhasilan anak pada masa depan.