BOGOR – Lembaga Pengembangan Agromaritim dan Akselerasi Innopreneurship (LPA2I) IPB University membekali 30 perusahaan rintisan (startup) binaannya dengan kemampuan menghitung dan menentukan nilai bisnis melalui Workshop Valuasi Bisnis Startup, Sabtu (3/10/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kesiapan startup dalam mengembangkan usaha dan menghadapi kebutuhan pendanaan.
Workshop tersebut merupakan bagian dari Program Inkubasi Bisnis Promoting Research and Innovation through Modern and Efficient Science and Technology Parks Project (PRIME STeP) Tahun 2026. Sebanyak 30 startup mengikuti kegiatan ini, terdiri atas 14 peserta program inkubasi tahun 2026, 14 startup program pra-akselerasi dan akselerasi tahun 2026, serta dua startup program akselerasi tahun 2025.
Melalui rangkaian kegiatan tersebut, setiap startup ditargetkan memiliki dokumen valuasi bisnis yang disusun berdasarkan karakteristik, kondisi, dan potensi pengembangan usahanya.
Wakil Kepala LPA2I Bidang Inkubasi Bisnis dan Kemitraan Industri, Prof. Rokhani Hasbullah, mengatakan startup memiliki karakteristik berbeda dari usaha mikro dan kecil pada umumnya. Selain mengandalkan teknologi, perusahaan rintisan dituntut memiliki orientasi pertumbuhan yang kuat.
Menurut dia, startup perlu terus meningkatkan kapasitas, mengembangkan produk, memperluas pasar, serta memperkuat teknologi dan skala usahanya. Dalam proses tersebut, valuasi bisnis menjadi salah satu aspek penting untuk membantu perusahaan memahami posisi dan potensi pertumbuhannya.
“Startup harus berani mengembangkan kapasitas masing-masing sehingga valuasi bisnis menjadi aspek penting sebagai upaya untuk mempertahankan dan mengembangkan usaha,” tuturnya.
Valuasi Tidak Cukup Mengandalkan Omzet
Penilaian terhadap sebuah startup tidak semata-mata ditentukan oleh besarnya omzet atau aset yang dimiliki. Potensi pasar, model bisnis, tingkat pertumbuhan, penguasaan teknologi, capaian usaha (traction), kualitas tim, serta prospek pengembangan juga menjadi pertimbangan dalam menentukan nilai perusahaan.
Untuk memperkuat pemahaman tersebut, peserta memperoleh materi pengantar valuasi bisnis, metode perhitungan valuasi, hingga praktik penyusunan dokumen valuasi. Materi disampaikan oleh Dr. Muhammad Bachtiar dan Dr. Asaduddin Abdullah dari Sekolah Bisnis IPB University, serta Indra Purnama, MT, Secretary General MIKTI.
Peserta juga diperkenalkan pada penerapan metode valuasi dalam konteks bisnis startup, termasuk penggunaan data perusahaan sebagai dasar perhitungan. Dengan pendekatan tersebut, founder diharapkan mampu memahami faktor-faktor yang memengaruhi nilai bisnis sekaligus mengidentifikasi aspek yang masih perlu diperbaiki.
Setelah workshop, enam narasumber yang bertindak sebagai valuator akan mendampingi peserta melalui sesi coaching dan mentoring. Pendampingan ini diarahkan untuk menyempurnakan dokumen valuasi masing-masing startup agar sesuai dengan kondisi dan kebutuhan bisnisnya.
Menyiapkan Startup Menghadapi Investor
Asisten Bidang Inkubator Bisnis LPA2I IPB University, Deva Primadia Almada, MSi, berharap kegiatan tersebut menghasilkan dokumen yang dapat dimanfaatkan secara nyata oleh para pelaku usaha.
“Melalui rangkaian kegiatan ini, harapannya setiap startup dapat mengetahui nilai valuasi bisnisnya masing-masing,” jelasnya.
Dokumen valuasi diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan, penyusunan strategi pertumbuhan, serta persiapan menghadapi calon investor dan mitra strategis. Informasi mengenai nilai perusahaan juga dapat membantu founder dalam membicarakan investasi, kepemilikan saham, dan rencana pengembangan usaha.
Melalui program PRIME STeP 2026, LPA2I IPB University berupaya memperkuat kapasitas startup tidak hanya dalam menghasilkan produk dan membangun pasar, tetapi juga dalam memahami nilai ekonomis usaha yang dikembangkan.
Kemampuan tersebut menjadi bekal penting bagi perusahaan rintisan untuk menyusun strategi ekspansi, meningkatkan kredibilitas di hadapan investor, dan mempersiapkan diri menuju tahap pendanaan serta scale-up.