BOGOR – Ahli pemuliaan tanaman IPB University, Prof Muhamad Syukur, berhasil merakit empat varietas cabai habanero lokal yang menjadi varietas habanero pertama di Indonesia yang resmi terdaftar di Kementerian Pertanian Republik Indonesia dan memperoleh Hak Perlindungan Varietas Tanaman (PVT). Keberhasilan pengembangan varietas cabai super pedas tersebut dipublikasikan melalui media pemberitaan resmi IPB University pada Selasa, 14 Juli 2026.
Empat varietas tersebut yakni Tabia Sala 1 IPB, Margi 2 IPB, Tabia Sala Oranye IPB, dan Tabia Sala Kuning IPB. Pengembangan varietas cabai super pedas ini merupakan hasil kerja sama IPB University dengan Pemerintah Daerah Bali.
Prof Syukur mengatakan, sebelumnya Indonesia belum memiliki varietas habanero yang mendapatkan perlindungan varietas. Kehadiran empat varietas tersebut sekaligus menjadi hasil dari proses pemuliaan yang telah dilakukan timnya sejak 2020.
Salah satu keunggulan utama cabai habanero hasil pemuliaan IPB University adalah tingkat kepedasannya yang tinggi. Berdasarkan skala Scoville Heat Units (SHU), tingkat kepedasannya bahkan dapat mencapai sekitar lima kali lipat dibandingkan cabai rawit biasa.
Tabia Sala 1 IPB yang berwarna merah memiliki tingkat kepedasan paling ekstrem, yakni mencapai 1 hingga 1,3 juta SHU. Sementara Margi 2 IPB berwarna peach, Tabia Sala Oranye IPB berwarna oranye, dan Tabia Sala Kuning IPB berwarna kuning, masing-masing memiliki tingkat kepedasan berkisar 350 ribu hingga 500 ribu SHU.
Selain tingkat kepedasan, varietas tersebut dikembangkan agar memiliki kemampuan adaptasi yang baik terhadap kondisi iklim tropis. Berbeda dengan habanero impor yang umumnya memiliki daya adaptasi rendah, varietas hasil pemuliaan IPB University dirancang lebih tangguh serta tahan terhadap penyakit keriting kuning.
Benih keempat varietas itu telah didiseminasikan melalui Benih Dramaga sehingga dapat diakses petani di berbagai daerah di Indonesia. Varietas tersebut dinilai memiliki prospek untuk memenuhi kebutuhan industri pengolahan sekaligus membuka peluang pasar ekspor.
Menurut Prof Syukur, salah satu perusahaan pengolahan di Bogor telah menunjukkan minat mengembangkan cabai bubuk berbahan habanero IPB University. Peluang ekspor juga terbuka, termasuk ke Korea untuk bahan pembuatan hot pack yang digunakan pada musim dingin.
Riset pengembangan varietas ini berlangsung selama sekitar enam tahun dengan sejumlah tantangan, mulai dari kebutuhan pendanaan berkelanjutan, keterbatasan lahan dan rumah kaca, kebutuhan sumber daya manusia, hingga mahalnya fasilitas untuk menganalisis tingkat kepedasan cabai.