BOGOR – Polemik mengenai lagu yang dinyanyikan salah satu pejabat publik dan dinilai mengandung lirik merendahkan perempuan memicu beragam tanggapan di tengah masyarakat. Persoalan tersebut dinilai perlu menjadi momentum untuk memperkuat kesadaran dalam membangun ruang informasi yang sehat dan ramah keluarga.
Dosen Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen IPB University, Rahmi Damayanti, SSi, MSi, mengatakan keluarga tidak hidup terpisah dari lingkungan informasi di sekitarnya. Pandangan tersebut disampaikan Rahmi sebagaimana dipublikasikan dalam media kepakaran IPB University Edisi 2025, Vol. 52, yang dikutip pada Jumat (17/7/2026).
Menurut Rahmi, keluarga setiap hari menerima beragam informasi melalui media, karya seni, hingga ruang publik. Informasi tersebut kemudian dimaknai dan berpotensi memengaruhi nilai-nilai yang berkembang dalam kehidupan sehari-hari.
“Yang terpenting bukan sekadar polemik sebuah lagu, tetapi bagaimana kita bersama-sama menghadirkan ruang informasi yang ramah keluarga dan menjunjung tinggi martabat setiap manusia,” ujar Rahmi.
Ia menilai setiap narasi yang merendahkan seseorang, baik perempuan maupun laki-laki, dapat memengaruhi cara keluarga memandang nilai-nilai yang hendak diwariskan kepada anggotanya. Karena itu, ruang publik semestinya menghadirkan konten yang menghormati martabat manusia.
Rahmi juga memandang besarnya respons masyarakat terhadap polemik tersebut sebagai sinyal positif. Kondisi itu menunjukkan masyarakat masih memiliki kepekaan terhadap karya maupun informasi yang dinilai tidak sejalan dengan nilai-nilai yang mereka yakini.
“Kepekaan ini penting karena menunjukkan masyarakat tidak apatis terhadap nilai yang berkembang di sekitarnya. Lingkungan informasi yang sehat juga menjadi modal penting bagi keluarga dalam menanamkan nilai kehidupan,” jelasnya.
Ia mengingatkan, normalisasi narasi yang merendahkan seseorang dengan dalih candaan dapat mengikis nilai dasar kehidupan bermasyarakat, termasuk sikap saling menghargai, menjaga, dan menghormati sesama.
Oleh karena itu, polemik tersebut diharapkan menjadi momentum untuk kembali menegaskan peran keluarga sebagai lingkungan pertama dalam menanamkan penghormatan terhadap martabat manusia.
Rahmi menambahkan, keluarga, masyarakat, media, dan pembuat karya memiliki peran yang saling melengkapi dalam menciptakan lingkungan informasi yang sehat. Kebebasan berekspresi dalam menghasilkan karya, menurutnya, juga perlu berjalan beriringan dengan tanggung jawab moral karena setiap karya akan diterima dan dimaknai oleh masyarakat, termasuk keluarga.