BOGOR – Inovasi pemanfaatan limbah industri rumput laut dan perikanan terus dikembangkan untuk mendukung pertanian berkelanjutan. Guru Besar IPB University, Prof Nurjanah, berhasil mengembangkan pupuk bokashi dengan memanfaatkan residu garam rumput laut dan limbah jeroan ikan sebagai bahan baku utama.
Dilansir dari portal resmi IPB University, Rabu (29/7/2026), inovasi tersebut dirancang untuk mengubah limbah yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal menjadi produk bernilai tambah. Pengembangan pupuk ini sekaligus menerapkan prinsip zero waste dan ekonomi sirkular yang menghubungkan sektor perikanan, industri rumput laut, dan pertanian.
Pupuk bokashi tersebut menggunakan bahan organik yang diperkaya residu garam rumput laut sebagai sumber unsur hara makro dan mikro. Sementara limbah jeroan ikan dimanfaatkan untuk memperkaya kandungan nutrisi sehingga menghasilkan komposisi unsur hara yang lebih lengkap.
“Inovasi ini memanfaatkan residu garam rumput laut dan limbah jeroan ikan sebagai bahan baku bernilai tambah, sehingga mendukung konsep zero waste, ekonomi sirkular, sekaligus meningkatkan kualitas nutrisi pupuk,” kata Prof Nurjanah.
Menurutnya, potensi pengembangan pupuk bokashi cukup besar karena bahan bakunya tersedia melimpah. Residu garam rumput laut, limbah organik terestrial, hingga jeroan ikan merupakan hasil samping berbagai kegiatan produksi yang selama ini belum seluruhnya dimanfaatkan.
Proses pembuatan pupuk dilakukan melalui fermentasi menggunakan mikroorganisme lokal (MOL) yang dibuat dari limbah hayati, air kelapa, gula merah, dan garam. Residu garam rumput laut kemudian dicampur dengan sekam padi dan dedak, disemprot larutan MOL, lalu difermentasi selama tujuh minggu hingga menjadi bokashi matang.
Meski demikian, pengembangan dalam skala luas masih menghadapi sejumlah tantangan. Di antaranya konsistensi kualitas bahan baku, stabilitas mutu produksi, proses pengujian dan perizinan, serta membangun kepercayaan petani yang masih banyak menggunakan pupuk kimia.
Peluang pasar pupuk organik juga dinilai terbuka lebar. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023, Indonesia masih mengimpor sekitar 5.367 ton pupuk organik.
Prof Nurjanah berharap inovasi tersebut dapat menjadi salah satu alternatif untuk mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia sekaligus meningkatkan produktivitas pertanian dan memperkuat penerapan ekonomi sirkular di Indonesia.