Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA) memperkuat kolaborasi riset melalui Forum Akademik Pemaparan Agenda Riset Nasional yang digelar di Kampus UMSIDA, Sidoarjo, Jumat (10/7). Forum ini menjadi ruang strategis untuk mempererat sinergi antara BRIN dan perguruan tinggi dalam mempercepat hilirisasi hasil penelitian agar dapat dimanfaatkan oleh industri maupun masyarakat.
Kepala BRIN, Arif Satria, menegaskan bahwa tantangan dunia riset saat ini bukan hanya menghasilkan inovasi berkualitas, tetapi juga memastikan hasil penelitian dapat dikenal luas, dimanfaatkan, dan memberikan nilai tambah bagi pembangunan nasional.
Menurutnya, perguruan tinggi perlu memiliki strategi komunikasi dan pemasaran yang kuat agar berbagai inovasi yang dihasilkan mampu menjangkau dunia industri.
“Yang paling penting adalah komunikasi. Perguruan tinggi perlu menampilkan karya dan inovasinya sehingga diketahui oleh industri. Karena itu, kampus perlu memiliki strategi komunikasi dan pemasaran inovasi yang baik,” ujar Arif.
Guru Besar Bidang Akuntansi UMSIDA, Sigit Hermawan, mengatakan BRIN telah menjadi mitra strategis dalam memperkuat kapasitas riset para dosen. Ia menilai banyak hasil penelitian kampus sudah mampu menjawab kebutuhan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), meski masih membutuhkan penguatan riset dan teknologi agar mampu bersaing pada skala industri yang lebih luas.
Dalam forum tersebut, dosen Teknik Elektro UMSIDA, Jamaludin, turut mengangkat tantangan hilirisasi produk riset akademik serta perlunya dukungan kebijakan yang mampu mempercepat transformasi hasil penelitian menjadi produk yang kompetitif.
Menanggapi hal itu, Arif menekankan pentingnya membangun budaya kolaborasi di antara seluruh pemangku kepentingan. Menurutnya, ekosistem inovasi hanya dapat berkembang jika setiap pihak saling mendukung dalam proses pengembangan riset.
Forum juga menghadirkan paparan dari dosen bidang kesehatan gigi, drg. Dwi, mengenai pengembangan biomaterial untuk kedokteran gigi yang kini telah memasuki tahap praklinik. Produk tersebut diharapkan dapat berkembang menjadi produk nasional sehingga mampu mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap bahan baku impor.
Selain itu, dosen ilmu sosial UMSIDA, Fera, menyoroti pentingnya integrasi ilmu sosial dalam pengembangan teknologi. Arif menilai keberhasilan penerapan teknologi tidak hanya ditentukan oleh aspek teknis, tetapi juga kesiapan masyarakat dalam menerima perubahan yang ditimbulkan.
Pada kesempatan itu, Arif juga memaparkan delapan prioritas riset BRIN, yakni pangan, energi, kesehatan, lingkungan, air, industri strategis, kebencanaan, serta sosial-humaniora. Ia mengajak sivitas akademika UMSIDA untuk terus memperkuat kolaborasi lintas lembaga guna melahirkan inovasi yang mampu bersaing di tingkat global.