BOGOR – IPB University memperkuat kolaborasi internasional di bidang riset pertanian melalui kerja sama dengan Bridgestone Corporation untuk mengembangkan teknologi berbasis mikrobiom guna mendukung budidaya tanaman karet yang lebih sehat, produktif, dan berkelanjutan.
Kemitraan tersebut ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Rektor IPB University, Dr Alim Setiawan Slamet, dan Executive Director Bridgestone Corporation, Dr Masashi Otsuki, di Kampus IPB Dramaga pada Juni 2026.
Pada kesempatan yang sama juga dilakukan penandatanganan memorandum of agreement (MoA) antara Fakultas Pertanian IPB University dan Bridgestone Corporation.
Kolaborasi ini turut melibatkan Nagoya University sebagai mitra strategis sehingga membentuk sinergi antara dunia akademik, industri, dan institusi internasional dalam menjawab tantangan sektor perkebunan karet.
Rektor IPB University, Dr Alim Setiawan Slamet, menyampaikan apresiasi atas komitmen Bridgestone dalam memperluas kemitraan dengan IPB. Menurutnya, kerja sama tersebut merupakan pengembangan dari penelitian yang telah dirintis sebelumnya mengenai penyakit tanaman karet dan kini berkembang menjadi kolaborasi kelembagaan yang lebih luas.
Ia menilai industri karet alam saat ini menghadapi berbagai tantangan, mulai dari serangan penyakit tanaman, peningkatan produktivitas, hingga tuntutan praktik budidaya yang lebih berkelanjutan. Melalui kolaborasi ini, IPB menghadirkan keunggulan di bidang pertanian, biosains tropika, dan kesehatan tanaman, sementara Bridgestone berkontribusi melalui pengalaman panjang di industri ban dan karet. Adapun Nagoya University melengkapi kerja sama dengan keahlian di bidang bio-agricultural sciences.
Rektor berharap kemitraan tersebut tidak hanya menghasilkan inovasi ilmiah, tetapi juga membuka peluang penelitian bersama, program magang mahasiswa, pertukaran pengetahuan, serta pengembangan teknologi yang dapat diterapkan secara langsung di lapangan.
Sementara itu, Dekan Fakultas Pertanian IPB University, Prof Suryo Wiyono, menjelaskan bahwa fokus utama penelitian adalah pengembangan mikrobiom tanaman karet, yakni komunitas mikroorganisme yang hidup di sekitar sistem perakaran tanaman.
Menurutnya, pemanfaatan mikrobiom memiliki potensi besar untuk meningkatkan pertumbuhan, produktivitas, serta kemampuan adaptasi tanaman karet terhadap berbagai tantangan lingkungan. Hasil penelitian tersebut ditargetkan dapat diterapkan pada sekitar 50 ribu hektare perkebunan karet di Sumatera Utara dan Kalimantan Selatan sebagai langkah mendukung pengembangan perkebunan karet yang lebih berkelanjutan di Indonesia.